Past Event

Family Business Masterclass: Building a Legacy that lasts Beyond Generation

December 7, 2025 | 07:00 PM

Family Business Masterclass: Building a Legacy that lasts Beyond Generation
Workshop Family Business Masterclass oleh Fidelitas Advisors yang diselenggarakan oleh Aksoro Business School dengan peserta pemilik bisnis keluarga di Indonesia.

“Apakah keluarga Anda tahu kapan transisi akan terjadi?”

Pertanyaan tersebut membuka Family Business Masterclass: Building a Legacy that Lasts Beyond Generation yang diselenggarakan oleh Aksoro Business School. Pesannya sederhana: transisi generasi tidak terjadi dengan sendirinya. Keluarga perlu mempersiapkannya jauh sebelum pergantian kepemimpinan benar benar dibutuhkan.

Keluarga bisnis memiliki peran besar dalam perekonomian. Namun, hanya sebagian yang mampu bertahan hingga generasi ketiga dan keempat. Salah satu tantangan yang sering muncul adalah lemahnya governance. Ketika seluruh keputusan masih bergantung pada founder, bisnis dapat berjalan cepat, tetapi belum tentu siap berjalan tanpa dirinya.

Tiga Kasus yang Sering Terjadi

Workshop mengangkat tiga situasi yang umum ditemukan dalam keluarga bisnis:

  1. Kasus pertama adalah rencana ekspansi yang terus berubah. Founder ingin segera membuka cabang baru, sedangkan anak anaknya menilai kondisi keuangan dan kesiapan manajemen belum memadai. Karena tidak ada forum dan proses pengambilan keputusan yang jelas, karyawan serta mitra bisnis tidak memperoleh kepastian.
  2. Kasus kedua adalah perekrutan anggota keluarga tanpa standar yang sama. Sebagian mengikuti proses resmi, sementara lainnya langsung ditempatkan oleh orang tua. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kompetensi, keadilan antar cabang keluarga, dan kredibilitas fungsi sumber daya manusia.
  3. Kasus ketiga terjadi ketika dua saudara memimpin bisnis bersama. Pembagian peran telah disepakati secara lisan, tetapi keduanya masih masuk ke wilayah masing masing. Instruksi datang dari dua arah, keputusan tertunda, dan persoalan bisnis mulai mempengaruhi hubungan pribadi.

Ketiga kasus tersebut memiliki akar yang serupa: keluarga belum memiliki kejelasan mengenai siapa yang memutuskan, siapa yang menjalankan, dan bagaimana perbedaan diselesaikan.

Ketika Governance Belum Mengikuti Bisnis

Governance membantu keluarga mengambil keputusan melalui struktur dan proses yang disepakati, bukan berdasarkan kedekatan, kebiasaan, atau siapa yang paling dominan. Tanpa governance, perbedaan tentang ekspansi dapat berubah menjadi persoalan kepercayaan. Kebijakan perekrutan dapat menimbulkan kecemburuan antar cabang keluarga. Ketidakjelasan peran dapat berkembang menjadi perebutan otoritas.

Tiga tantangan utama biasanya saling berkaitan. Konflik muncul karena hak, peran, remunerasi, dan batas keterlibatan belum disepakati. Suksesi tertunda karena keluarga belum siap membicarakan perubahan. Founder sulit mengurangi keterlibatan karena organisasi belum memiliki sistem yang cukup kuat. Ironisnya, semakin lama keputusan bergantung pada founder, semakin sedikit kesempatan organisasi membangun kemandiriannya.

Memisahkan Keluarga, Kepemilikan, dan Bisnis

Untuk memahami kompleksitas tersebut, keluarga perlu melihat tiga ruang yang berbeda: keluarga, kepemilikan, dan bisnis.

Ruang keluarga membahas nilai, hubungan, keharmonisan, dan warisan. Ruang kepemilikan membahas strategi jangka panjang, dividen, alokasi modal, dan penciptaan nilai. Ruang bisnis membahas kinerja, pertumbuhan, kompetensi, dan posisi pasar.

Masalah muncul ketika ketiga ruang tersebut bercampur. Keputusan bisnis dapat dipengaruhi relasi orang tua dan anak. Persoalan keluarga dapat dibawa ke dalam rapat manajemen. Keputusan kepemilikan dapat dibuat berdasarkan emosi jangka pendek. Governance memberikan forum dan aturan yang sesuai untuk setiap jenis keputusan. Ketika terjadi irisan, keluarga memiliki proses yang jelas untuk membahasnya tanpa mencampurkan seluruh kepentingan.

Governance Harus Berkembang

Kebutuhan governance berubah seiring perkembangan keluarga dan kepemilikan.

Pada tahap pertama, bisnis masih dikelola langsung oleh founder. Keputusan terpusat dan komunikasi berlangsung informal. Model ini dapat bekerja selama bisnis belum terlalu kompleks.

Pada tahap kedua, beberapa saudara mulai berbagi kepemilikan dan tanggung jawab. Keluarga membutuhkan pembagian peran, forum komunikasi, dan proses pengambilan keputusan yang lebih terstruktur.

Pada tahap ketiga, kepemilikan tersebar di antara para sepupu. Sebagian bekerja di perusahaan, sebagian hanya menjadi pemegang saham, dan sebagian tidak terlibat langsung. Pada tahap ini, keluarga memerlukan kebijakan tertulis, forum yang lebih formal, dan struktur profesional.

Oleh karena itu, salah satu pertanyaan yang bisa menjadi perenungan bersama pelaku bisnis keluarga adalah “Apakah keluarga masih menggunakan aturan generasi pertama untuk menghadapi realitas generasi kedua atau ketiga?”

Kejelasan Peran Mengurangi Konflik

Salah satu kasus dalam workshop menggambarkan seorang founder yang memegang hampir seluruh keputusan penting. Ketika ia harus beristirahat karena sakit, keluarga dan manajemen tidak mengetahui siapa yang berwenang mengambil alih.

Ketidakjelasan muncul karena anggota keluarga menjalankan beberapa identitas sekaligus. Seseorang dapat berbicara sebagai orang tua, pemilik, komisaris, atau atasan. Anak juga dapat merespons sebagai anggota keluarga, karyawan, atau calon pemilik. Ketika peran tidak jelas, ekspektasi mudah bertabrakan. Kejelasan peran membantu setiap orang memahami kewenangan, tanggung jawab, dan batas keterlibatannya.

Pemaparan materi oleh David Bingei, Principal Fidelitas Advisors
Pemaparan materi oleh David Bingei, Principal Fidelitas Advisors

Warisan Membutuhkan Pilihan yang Disadari

Keluarga dapat menggunakan beberapa forum sesuai tingkat kompleksitasnya.

David Bingei, Principal Fidelitas Advisors menutup sesi dengan satu pesan: “When roles are clear, the family grows stronger and the business lasts longer.”

Governance tidak terbentuk secara otomatis seiring bertambahnya usia bisnis. Keluarga perlu memilih untuk membangun kejelasan, melakukan percakapan yang mungkin tidak nyaman, serta menerjemahkan kebiasaan informal menjadi sistem yang dapat diteruskan.

Pertanyaan mengenai suksesi, peran, kepemilikan, dan penyelesaian konflik memang tidak selalu mudah. Namun, membicarakannya lebih awal memberi keluarga waktu untuk membangun kesepahaman sebelum keadaan memaksa mereka mengambil keputusan. Pada akhirnya, warisan tidak hanya ditentukan oleh besarnya bisnis yang dibangun, tetapi juga oleh kesiapan keluarga untuk mengelolanya bersama dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Other Past Event

who-am-i-in-this-business.jpg

Who Am I in This Business?

Refleksi talkshow Who Am I in This Business? mengenai pentingnya role clarity sebagai fondasi pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis keluarga.

7 months ago

how-to-become-a-good-owner.jpg

How to Become a Good Owner

Ulasan mengenai bagaimana menjadi owner yang efektif melalui kejelasan peran dan struktur kepemilikan bisnis keluarga.

8 months ago

managing-sibling-and-cousin-partnerships.jpg

Managing Sibling and Cousin Partnerships for Business Growth and Continuity

Insight Event Family Business Fidelitas tentang tantangan sibling dan cousin partnerships serta peran tata kelola dalam menjaga pertumbuhan bisnis keluarga.

10 months ago