Dalam dunia bisnis keluarga, sering kali ditemukan fenomena di mana seorang penerus diberikan jabatan tinggi seperti Direktur atau Presiden Direktur hanya berdasarkan garis keturunan, bukan kesiapan kompetensi. Hal ini memicu risiko besar yang dikenal sebagai Promotion to the Level of Incompetence, di mana seseorang diangkat ke posisi yang jauh melampaui kemampuannya. Artikel ini mengulas mengapa pemberian gelar tanpa kualifikasi yang nyata justru akan mengundang masalah bagi stabilitas dan masa depan perusahaan.
Siklus "Here Gone, Here Gone" dalam Kepemimpinan
Sering terjadi skenario di mana seorang pendiri mencoba melepaskan kendali kepada anaknya, namun hanya dalam hitungan tahun ia terpaksa harus turun tangan kembali. Saat krisis atau masalah muncul, pendiri merasa bahwa sang penerus tidak mampu menanganinya, lalu ia kembali mengambil alih posisi tersebut untuk melakukan fire fighting. Siklus tarik-ulur ini sering disebut sebagai fenomena Here Gone, Here Gone.
Kegagalan transisi ini biasanya berakar pada persiapan dan pengembangan suksesor yang kurang mendalam. Ketika kendali dilepaskan kepada individu yang level kompetensinya belum setara dengan tanggung jawab yang diberikan, maka kegagalan adalah hasil yang bisa diprediksi. Tanpa adanya development plan yang terukur, suksesi hanya akan menjadi eksperimen yang melelahkan bagi organisasi.
Gelar Tidak Menentukan Kualitas Kepemimpinan
Penting untuk disadari bahwa memberikan jabatan mentereng seperti General Manager atau Presiden Direktur tidak secara otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin yang cakap. Gelar hanyalah sebuah label yang tidak memberikan kualifikasi instan kepada penyandangnya. Seseorang haruslah berjuang dan membuktikan kapasitasnya sebelum jabatan tersebut disematkan secara resmi.
Pemberian jabatan yang terlalu dini kepada generasi penerus atau profesional tanpa dasar kompetensi yang kuat adalah undangan terbuka bagi munculnya berbagai masalah internal. Ketidakmampuan pimpinan dalam mengambil keputusan strategis akan menciptakan ketidakpastian di seluruh lini perusahaan. Oleh karena itu, kompetensi harus mendahului gelar, bukan sebaliknya.
Investasi Waktu dalam Pengembangan Kompetensi
Proses pengembangan generasi berikutnya atau Next Gen Development bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dalam semalam. Dibutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh tahun untuk benar-benar menyiapkan seseorang agar siap memimpin sebuah perusahaan secara mandiri. Waktu ini diperlukan untuk mengasah insting bisnis hingga kepemimpinan operasional.
Tanpa rencana pengembangan yang konsisten, suksesi akan selalu berakhir dengan kepulangan sang pendiri ke kursi kepemimpinan lama. Perusahaan yang melegenda adalah mereka yang berani berinvestasi pada pelatihan jangka panjang bagi para calon pemimpinnya. Dengan demikian, saat tongkat estafet diberikan, perusahaan tetap stabil tanpa intervensi terus-menerus dari generasi sebelumnya.
Kesimpulan
Suksesi yang gagal sering kali disebabkan oleh ketergesaan dalam memberikan kekuasaan struktural. Fenomena Promotion to the Level of Incompetence harus diwaspadai dengan memperketat standar kualifikasi sebelum jabatan diberikan. Dengan rencana pengembangan selama lima hingga tujuh tahun, perusahaan dapat memastikan bahwa pemimpin baru memiliki kapasitas mumpuni untuk membawa bisnis menuju kejayaan jangka panjang.


