Anak Sulung Memimpin, tetapi Ayah Memiliki Harapan Berbeda
Seorang pendiri berusia 73 tahun memiliki lima orang anak. Anak sulungnya kini menjabat sebagai Direktur Utama, salah satu anak perempuannya menangani Finance, sementara menantunya bertanggung jawab atas Operations.
Namun, sang ayah mulai meragukan kapasitas anak sulungnya untuk membawa perusahaan berkembang lebih jauh. Justru sang menantu yang dinilainya lebih mampu dan diharapkan dapat meneruskan kepemimpinan bisnis.
Persoalannya, anak sulung merasa jabatan Direktur Utama merupakan haknya sebagai anak tertua. Ia juga merasa kondisi perusahaan saat ini sudah cukup baik dan tidak melihat alasan untuk melakukan banyak perubahan.
Bagi sang ayah, perusahaan yang telah dibangun selama puluhan tahun masih memiliki potensi besar. Ia ingin melihat merek yang sudah dikenal luas terus berkembang, sementara anak yang kini memimpin lebih memilih mempertahankan kondisi yang ada (status quo).
Sebagai Komisaris, sang ayah masih terlibat dalam pengawasan perusahaan. Namun, ia kesulitan mendorong anak sulungnya untuk melakukan inovasi. Perbedaan pandangan ini membuat keinginannya untuk membawa perusahaan maju semakin sulit diwujudkan.
Ayah masih melihat begitu banyak peluang untuk membesarkan bisnisnya. Namun, anak yang dipercaya memimpin merasa apa yang ada sekarang sudah cukup.
Ayah Melihat Peluang Baru, tetapi Anak Merasa Sudah Cukup
Di tengah perbedaan pandangan tersebut, penjualan perusahaan mulai menurun. Sekitar 80% penjualan bergantung pada satu pelanggan besar, dengan kontrak kerja sama yang diperbarui setiap tahun.
Bagi sang ayah, ketergantungan ini menimbulkan kekhawatiran. Bagaimana jika suatu hari pelanggan tersebut memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama? Apa yang akan terjadi pada bisnis yang selama ini sangat bergantung padanya?
Sang ayah bahkan mencoba membuka peluang diversifikasi ke bisnis lain. Namun, tidak ada satu pun anaknya yang bersedia mengambil tanggung jawab untuk menjalankan usaha baru tersebut.
Di satu sisi, ayah masih memiliki ambisi untuk mengembangkan perusahaan. Di sisi lain, anak sulung yang memimpin merasa bisnis sudah berjalan sebagaimana mestinya, sementara anak-anak lainnya juga belum menunjukkan ketertarikan untuk mengambil peluang baru.
Akhirnya, perusahaan terus berjalan dengan cara yang sama. Sang ayah masih menyimpan harapan untuk melihat bisnisnya tumbuh lebih besar, tetapi belum menemukan siapa yang bersedia mewujudkannya.
What We Can Learn?
Bagi seorang pendiri, melihat bisnis yang dibangun selama puluhan tahun masih memiliki peluang besar tentu membawa harapan. Namun, generasi yang menjalankannya belum tentu memiliki ambisi dan pandangan yang sama.
Bagaimana jika orang tua masih ingin melihat bisnisnya berkembang, sementara anak yang dipercaya memimpin justru merasa semuanya sudah cukup?